Thursday, 15 November 2018

Memilih Rumah Sakit (Jakarta Series)

Seperti halnya pakaian, memilih Rumah Sakit memerlukan chemistry tersendiri antara manusia dengan si objek. 
Designed by Sapann-Design

Saya masih ingat sewaktu kecil dulu sangat menyukai wangi RS. Bau obat-obatan, alkohol, jarum suntik, bahkan pengharum lantainya! Namun, saya tidak ingin menjadi dokter karena merasa tidak cukup pintar dan mampu melewati masa sekolah yang lama. Jadi, hubungan saya dengan RS seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, alias gak jodoh. Gak nyangka juga sih, penyakit yang saya miliki membuat cinta lama ini bersemi kembali. Saya jadi sering bolak-balik Rumah Sakit ya walaupun gak jadi dokter tapi jadi pasiennya, hihihi…

Kali ini saya mencoba untuk memberi review beberapa RS di dari hasil #JelajahRumahSakit ala Nada Salma. Semua yang saya tulis ini murni pengalaman dan pendapat pribadi, so, it might be less objective. Here we go!

1. Rumah Sakit Pondok Indah - Jakarta

Kekurangan:

- Lahan parkir sepertinya jadi kendala utama RS ini mengingat kecilnya space yang disediakan. Saat parkir di basement pun kamu harus memiliki driving skill yang jago karena tanjakan curam dan belokan tajam yang cukup rawan.
- Jika dalam kondisi gawat darurat dan harus pergi ke IGD, tak jarang kamu harus mengantri lama mengingat bed yang disediakan tidak terlalu banyak. Sistem antrian dan tempat tunggu di IGD juga kurang nyaman karena kursi yang disediakan untuk menunggu giliran terbilang sedikit. Lain halnya jika IGD sedang sepi, penanganan perawat dan dokter cukup cepat dan efektif. Saran saya, sebelum menuju IGD RSPI sebaiknya kamu menghubungi pihak RS terlebih dahulu untuk tau kondisi di sana apakah memungkinkan menerima pasien atau tidak. Jika ramai, lebih baik cari RS lain yang lebih sepi.

Kelebihan:

- Kualitas pelayanan Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta emang TOP deh. So far, RSPI merupakan RS yang memiliki pelayanan yang sangat baik dibanding RS-RS di Jakarta lainnya yang pernah saya kunjungi. They know how to treat customer very well and their customer experience is fantastic!
- Ragam pilihan makanan yang banyak dan enak. Menurut saya, keberadaan kafetaria atau restauran di Rumah Sakit itu penting banget. Kenapa? Karena we spend lots of our time waiting dan hal paling seru yang dilakukan saat menunggu adalah MAKAN.

Lokasi: 16/20
Fasilitas Penunjang: 18/20
Tenaga Kesehatan: 13/20
Kebersihan: 17/20
Pelayanan: 19/20
Overall Score: 83/100

2. Rumah Sakit Antam Medika - Jakarta

Kekurangan:

- Lokasi cukup jauh dari daerah rumah saya.
- Kafetaria kurang banyak pilihan makanannya dan jam operasional-nya terbatas.
- Pelayanan masih kurang merata. Untuk staff lama, ramahnya minta ampun tapi staff baru kadang agak jutek ya, hehehe
- Kalau mau daftar via telfon, it's very hard to reach them. You have to call more than 3 times until somebody pick up the phone
- Petugasnya banyak banget di 1 station, jadi kadang kebanyakan rumpinya dibanding taking care pasien yg antri

Kelebihan:

- Dokter-dokter yang praktek super duper baik, pinter, dan professional. Selain dr. Nanang Sukmana (immunologist), ada dr Lofriman (rehab medik), dr Sunanto (anak)
- Biaya cukup terjangkau
- Lahan parkir luasss
- RS yang tergolong baru jadi gedungnya bagus dan modern

Lokasi: 13/20
Fasilitas Penunjang: 15/20
Tenaga Kesehatan: 13/20
Kebersihan: 12/20
Pelayanan: 8/20
Overall Score: 61/100

3. Mayapada Hospital Lebak Bulus - Jakarta

Kekurangan:

- Prosedur daftar - pembayaran dan antri obat kadang membingungkan
- Staff terkadang bingung harus melayani siapa dulu karena tidak ada sistem antrian yang jelas
- Kasir dan tempat pendaftaran dijadikan di satu station dan di-handle oleh 1/2 staff saja, kadang jadi riweh..
- Hasil lab langsung difiling di medical record kita (tapi bukan online system yaa) dan I can't get copy of my result (pfftt)

Kelebihan:

- Lokasi enak, karena dekat dari rumah
- Dokter yang praktek di sana adalah dokter2 senior yang baik dan super komunikatif
- Biaya masih reasonable
- Peralatan penunjang cukup lengkap dan canggih

Lokasi: 15/20
Fasilitas Penunjang: 16/20
Tenaga Kesehatan: 14/20
Kebersihan: 14/20
Pelayanan: 9/20
Overall Score: 68/100

Nah, kayaknya segitu dulu ya. Masih ada beberapa RS lagi yang akan saya tulis di part lain blog ini. Review ini murni my personal experience dan sekali lagi, RS itu cocok2an ya. Bisa aja cocok di saya tapi gak cocok di kamu, atau sebaliknya.

Kalau ada yang ingin ditanyakan bisa langsung hit me thru my email ya!

Cheers!

NS

Tuesday, 18 July 2017

Pengalaman Menggunakan BPJS: Part Suami

Hello There!

Been a while ya gak update blog ini... Rindu banget tapi kadang suka bingung harus nulis apa mengingat otak suka lemot gara-gara ada "kabut"nya :p

Nah, kali ini saya mau berbagi sedikit pengalaman tentang BPJS Kesehatan yang selama ini saya pikir seram, ribet, dan sulit. Ternyata, gak "sengeri" yang dibayangkan, lho!

Source: https://bpjs-kesehatan.go.id


PINDAH FASKES

Karena sekarang saya dan suami lagi sering bolak-balik Jakarta-Jogja dan memilih berobat ke dr Deshinta Putri Mulya, SpPd-KAI di RS JIH, kepikiran deh untuk pindah Fasilitas Kesehatan (Faskes) dari Jakarta ke Jogja. Caranya surprisingly gampang banget! Saya datang ke kantor cabang BPJS sekitar pukul 12.10 siang dan disambut oleh security yang ramah sembari bertanya keperluan kita (SOP-nya seperti kalau lagi datang ke KC Bank). Mengingat saya cukup clueless, akhirnya saya dibantu untuk memilih formulir yang tepat, diambilkan nomer antrian, dan duduk manis menunggu panggilan. Saat itu saya hanya menunggu sekitar 3 antrian saja. Sekitar 10 menit kemudian, nomor saya dipanggil dan saya menceritakan tujuan utama yaitu ingin menjadi peserta BPJS Mandiri. Nah, si mbak-nya udahnalah bilang kalau BPJS saya masih aktif dibayar kantor jadi gak bisa jadi peserta mandiri, tapi kalau hanya pindah Faskes saja bisa. Formulir yang awalnya saya isi panjang-panjang jadi gak kepake deh...

Kerennya, si mbak ini langsung ambilin formulir baru khusus pindah Faskes dan saya cuma diminta isi 3 nomer aja lalu menandatanganinya. Setelah memastikan Faskes pilihan yang saya maksud sesuai, beliau meminta kartu BPJS lama saya sambil bilang "Sebentar bu saya print-kan kartunya". Saya pun melongo, wow, langsung dapet kartu baru (girang banget) hahahha... Makin girang setelah lihat kartunya udah ganti model jadi seperti e-KTP dan judulnya udah jadi Kartu Indonesia Sehat (saya langsung makin cinta ama pak Jokowi dan ngerasa, yes, akhirnya punya deh kartu yang sesuai janji kampanyenya). Proses penggantian Faskes ini kira-kira hanya 10 menit. Keluar kantor BPJS dengan senyuman puas :)




FASKES Tk. 1

Suami yang lagi sibuk ngurusin syaraf kejepitnya yang udah 4 bulan ini bolak-balik RS akhirnya berhasil saya rayu untuk nyobain pake KIS alias BPJS untuk pertama kalinya sejak kami punya. Sebelum pakai, saya download dulu aplikasi JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang tersedia di playstore dan appstore. Aplikasi ini sangat membantu dalam memberikan informasi seperti info faskes, kantor cabang, riwayat kesehatan, sampai virtual card!

Sebenarnya, kami mengincar RS JIH dan dokter yang sedang menangani suami saat ini. Saya kemudian menelfon RS JIH untuk menanyakan hal-hal berikut:

1. Apakah menerima pasien BPJS? Ya, RS JIH bisa terima pasien BPJS sesuai rujukan.

2. Bagaimana prosedurnya? Karena RS JIH merupakan RS tipe B, maka pasien harus mendapat rujukan dari faskes sebelumnya (RS tipe C atau D). Jika di RS tersebut tidak tersedia dokter spesialis/sub-spesialis yang dibutuhkan maka pasien akan dirujuk ke RS JIH untuk ditangani lebih lanjut, contohnya seperti RSUD Sleman atau RS Condong Catur.


3. Apakah dokter yang kami incar menerima pasien BPJS? Alhamdulillah, dokter-dokter tersebut menerima pasien BPJS (uhuyy)


4. Bagaimana sistem pendaftaran dan antriannya? Pasien datang ke bagian pendaftaran seperti pasien umum lainnya (tempatnya tidak dibedakan) kemudian mendaftar seperti biasa dan menyerahkan berkas BPJS yang dibutuhkan, lalu, mendapat nomor antrian yang sama dengan pasien umum (bisa kita pantau secara online, lho!)



RS JIH - Source:yogyes.com


Dengan semangat 45, Senin pagi kami pergi puskesmas Depok di dekat rumah. Saya suka puskesmas ini sejak pemeriksaan wajib sebelum menikah karena tidak terlalu ramai, rapi, bersih, dan ramah petugasnya. 

Saat datang untuk mendaftar, seharusnya saya mengambil no antrian pendaftaran tapi karena rada dodol, saya langsung nanya aja gitu ke mbak petugas pendaftaran dan langsung dilayani aja gituuu... hehehe..

Petugas pendaftaran menanyakan beberapa hal basic seperti alamat, pekerjaan, dan keluhan lalu memberi kami nomer antrian untuk ke poli umum. Saat itu, kami menunggu kurang lebih 10 antrian. Biar gak bosen, saya dan mas Boy nonton film 3 Dara di Iflix yang cukup lucu dan menghibur sampai gak kerasa, nomor kami dipanggil. Setelah masuk ke ruangan, ternyata kami harus antri lagi untuk ditensi dan ditimbang, baru kemudian dokter memanggil nama pak Suami. masuk lah kita ke bilik dokter dan disambut dengan ramah.

Kami menjelaskan riwayat medis mas Boy sambil membawa rontgen awal yang pernah dilakukan di Jakarta. Dokter mengatakan kalau dari hasil rontgen tersebut kurang bisa terlihat, sebaiknya di MRI saja maka harus dirujuk ke RS yang ada di pilihan. Mempertimbangkan jarak dan saran petugas call center RS JIH sebelumnya yang menyebutkan RS Condong Catur, akhirnya kami memilih RSCC untuk faskes berikutnya (Yes, 1 step berhasil). Oh iya, dokter juga mengajarkan cara pakai korset yang benar dan mewanti-wanti untuk tidak melakukan aktifitas berat dengan raut muka yang terlihat ikut prihatin. Sepulang dari puskesmas kami juga membawa vitamin dan obat batuk yang diresepkan oleh bu Dokter. Semuanya GRATIS! 

Faskes Lanjutan - Rumah Sakit Condong Catur (Dokter Syaraf)


RSCC - Source: google


Sebelum melanjutkan petualangan, kami kembalik ke rumah untuk makan siang sambil berusaha menghubungi RSCC untuk mengetahui prosedur pendaftaran di sana. Setelah berhasil mendaftar via telfon dan kebetulan dokter yang dirujuk praktek sore itu juga, saya menyiapkan kelengkapan berkas.

Dokumen yang harus dibawa:

1. FC Surat rujukan Faskes Tk 1
2. FC KTP
3. FC KK
4. Kartu BPJS

Di sini baru berasa the real BPJS Fighter. RS terbilang cukup kecil dan old school namun ramai dengan orang-orang. Diawali ke bagian pendaftaran, saya menyampaikan berkas dan tanpa diberi pegangan apa-apa, mas Boy langsung diminta untuk ke bagian tensi. Setelah ditensi, kami menunggu di ruang tunggu kamar praktek. Kapan dipanggil masih misteri walaupun saat ditelfon diberitahu bahwa sudah dapat nomor antrian, hmm... Sekitar 30 menit kemudian kami bertemu dengan pak Dokter yang tebakannya tepat dengan apa yang dirasakan suami. Beliau mengatakan dari rontgen yang kami bawa kurang terlihat, namun sayangnya beliau tidak meminta rontgen ulang  padahal kondisi sakit mas Boy dari 4 bulan lalu sudah jauh berbeda.

Beliau memberi 2 diagnosa yang cukup melegakan karena diagnosa sebelumnya hanya 1 sedangkan yang dirasakan ada 2. Kemudian mas Boy mendapat obat-obatan dan dirujuk ke dokter rehab medik untuk melakukan fisioterapi dan kembali kontrol setelah 1 minggu. Kami juga mendapatkan surat rujuk balik yang berlaku selama 1 bulan. Yeay.. (masih happy). Tapi, kita gagal mendapatkan rujukan ke RS JIH karena dirasa masih bisa tertangani di RSCC dan kasus mas boy belum perlu MRI (yang adanya di JIH). Ok gak apa-apa, kami tetap seneng aja dan optimis bahwa we're on the right hands.

Kami tidak merasa diperlakukan berbeda. Well, kalau mau dirasa-rasa banget sih adaa sedikit bedanya sih pas di sini (mulai labil). Waktu konsultasi dokter gak terlalu lama tapi cukup efisien dan sistem antrian yang misterius, hihihi...

Faskes Lanjutan - Rumah Sakit Condong Catur (Dokter Rehab Medik)

Nah, di tahap ini saya agak keki dan kesel sih. Mas Boy udah nunggu lamaaa banget sampe akhirnya nanya ke perawatnya (mungkin gini kali ya kira-kira2):

Mas Boy (MB): "Giliran saya kapan ya sus perkiraan?"
Suster (SS): "Nama bapak siapa?"
MB: "Boy xxx"
SS: "Pasien BPJS?"
MB: "Iya"
SS: "Oh sebentar saya ambil berkasnya"

Lah... setelah sekian lama, orang-orang juga udah silih berganti, si suster baru mau ngecheck berkas..
Gak lama kemudian tiba giliran mas Boy untuk konsultasi. Kami udah menyiapkan list pertanyaan biar enggak ada yang kelewat dan berpikir bakalan fisioterapi gratis di sana.

Tapi, kadang yang kita bayangkan emang gak sesuai harapan ya. Si dokter ini dengan entengnya mematahkan diagnosa dokter syaraf dan dokter orthopedi kemudian memberi diagnosanya sendiri dengan bilang "cuma otot kaku biasa, bukan masalah". Beliau bisa banget bilang begitu karena melihat hasil rontgen 4 bulan lalu yang katanya gak kelihatan apa-apa, hanya kaku aja. Padahal, kalau mau mendengar keluhan pasien kan bisa ya? Kok sakit banget berbulan-bulan sampai sulit jalan kalau tidak kelihatan kan bisa aja beliau minta untuk cek ulang, ya? Tapi ini enggak dong...

Fisioterapi juga gagal karena si dokter bilang penuh sampai awal bulan! Mas Boy berkali-kali diceritakan kalau di RS lain bisa tapi gak pakai BPJS yang kalau saya tangkap seolah-olah mau dibilangin "udah fisio tempat lain aja gak usah pake BPJS". Selain itu bu dokter ini malah bilang ada terapis yang bisa dipanggil ke rumah tapi biayanya kurang tahu, "nanti kalau bisa, terapisnya akan hubungi ya". 

Pfftt asli deh, agak gak masuk aja di logika saya. Pasien udah kesakitan, butuh diterapi segera tapi penuh, terus gak dikasih solusi misalnya rujuk ke RS lain yang gak penuh? I feel like she did not have the urge to help and encourage us not to use this government facility. Pokoknya di tahap ini saya kecewa berat deh sama bu dokter dan kami memutuskan akan kembali menjadi pasien umum saja sementara ini.

Sayang banget mesti ketemu dokter yang seperti itu. Jadi kepikiran pasien-pasien lainnya yang mungkin keadaan ekonominya gak terlalu baik, harus gimana coba? Alhamdulillah kita masih beruntung karena cuma "nice try" aja, kalau orang yang gak mampu gimana? Mesti nahan sakit sebulan gitu untuk dapat penanganan?

Semoga orang-orang yang membutuhkan bantuan medis baik itu obat, terapi, dll dengan budget yang sangat amat terbatas bisa bertemu dokter yang kooperatif dan mau membantu pasiennya. Membantu untuk sembuh, membantu untuk meringankan rasa sakit, dan membantu untuk mencarikan solusi yang tepat.

Itu tadi pengalaman saya (dan suami) berobat menggunakan BPJS. Kami gak kapok sih, I plan to try for my regular consultation every month. Kira-kira berhasil tembus gak yaaaa ke RS inceran? We'll see...

xx
Nada Salma

Sunday, 4 June 2017

One last Dance



One last dance with you 

Even though what we have is strong 
Both of us know that we've done wrong 
You could lose everything 
Need to give it up 
Just one last dance with you 
For all the moments that we shared 
All the lies they don't compare 
You gotta go back to him, and I realize that 
Every time I see your face I know 
There's a part of me that can't bear to let you go 

And I would give my heart 
Give you the world, risk losing everything I got 
I'd give it all to you 
Though I don't wanna stop 
I know it's the right thing to do.....yeah 

One last dance with you 
So hard to find the words to say 
But I can't see any other way 
Girl you've risked everything 
Time to give it up 
Just one last dance with you 
And though it breaks my heart to leave 
We both know it's time to let it breathe 
You gotta go back to him, girl I realize that 
Every time I see your face I know 
There's a part of me that can't bear to let you go 

And I would give my heart 
Give you the world, risk losing everything I got 
I'd give it all to you 
Though I don't wanna stop 
I know it's the right thing to do.....yeah 

So many times we tried to hold back 
We been here before now girl 
And it feels so cruel, yeah 
A million tears won't change the fact that 
I find it hard to play the game 
When I feel like i'm the one to blame 

But I would give my heart 
Give you the world, risk losing everything I got 
I'd give it all to you 
Though I don't wanna stop 
I know it's the right thing to do.....yeah 

And I would give my heart 
Give you the world, risk losing everything I got 
I'd give it all to you 
And make our peace with god 
I know it's the right thing to do...yeah

Thursday, 8 September 2016

Apa sih Behcet's Syndrome?

Kalau ada yang tanyaKamu sakit apa sih?” Jujur saya agak sulit untuk memberikan jawaban. Akan lebih mudah situasinya jika sedang bersama pak Suami karena saya akan memberi tatapan tajam sambil tersenyum sebagai kode “would you please explain it to them, dear?” The rest will be his job, hihihi


Bukan karena malu atau malas menjawab tapi kadang saya bingung harus jawab apa. Kalau saya jawabAuotimunterlalu general dan masih banyak yang belum paham. Selain itu, penyakit Autoimun saya pun ada 3 biji ditambah penyakit pendampingnya yang sering kali terdengar asing so I have to explain it in a very simple way.

Thus, I try to write about one of my disease from my own understanding.

Salah satu dari jenis penyakit Autoimun adalah Behcet’s Syndrome/ Behcet’s Disease. Seperti penyakit Autoimun lainnya, Behcet merupakan penyakit langka yang umumnya menyerang orang dewasa muda (usia produktif). Penyakit ini menyebabkan peradangan di beberapa bagian tubuh seperti mata, mulut, kulit, genital, persendian, pembuluh darah, dan sistem syaraf.

Simplenya, jika SLE (Lupus) merupakan penyakit autoimun yang menyerang berbagai sistem jaringan tubuh (tidak spesifik), maka Behcet menyerang sistem pembuluh darah tipis teruatama di daerah mata, kulit, dan rongga mulut.

source: Singapore General Hospital - Autoimmunity & Rheumatology Centre 


Gejala yang dirasakan masing-masing penderita Behcet sangat beragam tergantung bagian mana yang dominan diserang. Namun, biasanya merasakan beberapa gejala berikut ini:

1. Sariawan
Bisa dibilang sejak kecil saya berteman dengan sariawan. Dalam 1 bulan mungkin hanya 10 hari saja tanpa sariawan. Saya sering menyebut ini sebagaiSerSan” alias Serangan Sariawan mengingat lesi yang ada menyerang di lebih dari 1 titik rongga mulut seperti bibir dalam bawah, lidah, gusi, bahkan tenggorokan. Sersan biasanya akan sembuh dalam waktu 7-14 hari namun akan datang kembali menyapa beberapa hari kemudian seperti kata incess SyahriniHempas, datang lagi, hempas, datang lagi..”

2. Ruam pada kulit
Umumnya, penderita Behcet akan mengalami ruam-ruam kemerahan pada kulitnya. Kadang berbentuk titik-titik, ruam seperti jerawat, atau bisul yang akan menghilang beberapa hari namun muncul kembali periodically

3. Peradangan di daerah genital
Beberapa penderita merasakan sakit di daerah genital karena peradangan tetapi ini berbeda dengan penyakit sexual yang menular

4. Peradangan pada mata
Commonly known as Uveitis, di mana penderitanya merasakan kemerahan pada mata, rasa sakit, dan pandangan buram yang dapat mengakibatkan kebutaan jika tidak ditangani dengan baik

5. Sakit Sendi
Salah satu gejala yang mayoritas dirasakan oleh para penyandang Autoimun lainnya yaitu rasa sakit di persendian yang dapat menyebabkan bengkak hingga membuat sulit untuk beraktivitas. Kalau saya bangun tidur lalu sendinya gak sakit malah jadi berasa aneh, hehehe

Mengingat kompleksnya penyakit ini, biasanya dokter yang menangani tidak hanya satu karena terkait dengan bagian mana yang diserang oleh si Behcet. Untuk kasus saya, dokter utama adalah dokter spesialis penyakit dalam – sub spesialis alergi dan imunologi, dokter spesialis mataahli Vitro-Retina, dan dokter spesialis kulit.

#YukKenalAutoimun

xx
Nada Salma