Tuesday, 18 July 2017

Pengalaman Menggunakan BPJS: Part Suami

Hello There!

Been a while ya gak update blog ini... Rindu banget tapi kadang suka bingung harus nulis apa mengingat otak suka lemot gara-gara ada "kabut"nya :p

Nah, kali ini saya mau berbagi sedikit pengalaman tentang BPJS Kesehatan yang selama ini saya pikir seram, ribet, dan sulit. Ternyata, gak "sengeri" yang dibayangkan, lho!

Source: https://bpjs-kesehatan.go.id


PINDAH FASKES

Karena sekarang saya dan suami lagi sering bolak-balik Jakarta-Jogja dan memilih berobat ke dr Deshinta Putri Mulya, SpPd-KAI di RS JIH, kepikiran deh untuk pindah Fasilitas Kesehatan (Faskes) dari Jakarta ke Jogja. Caranya surprisingly gampang banget! Saya datang ke kantor cabang BPJS sekitar pukul 12.10 siang dan disambut oleh security yang ramah sembari bertanya keperluan kita (SOP-nya seperti kalau lagi datang ke KC Bank). Mengingat saya cukup clueless, akhirnya saya dibantu untuk memilih formulir yang tepat, diambilkan nomer antrian, dan duduk manis menunggu panggilan. Saat itu saya hanya menunggu sekitar 3 antrian saja. Sekitar 10 menit kemudian, nomor saya dipanggil dan saya menceritakan tujuan utama yaitu ingin menjadi peserta BPJS Mandiri. Nah, si mbak-nya udahnalah bilang kalau BPJS saya masih aktif dibayar kantor jadi gak bisa jadi peserta mandiri, tapi kalau hanya pindah Faskes saja bisa. Formulir yang awalnya saya isi panjang-panjang jadi gak kepake deh...

Kerennya, si mbak ini langsung ambilin formulir baru khusus pindah Faskes dan saya cuma diminta isi 3 nomer aja lalu menandatanganinya. Setelah memastikan Faskes pilihan yang saya maksud sesuai, beliau meminta kartu BPJS lama saya sambil bilang "Sebentar bu saya print-kan kartunya". Saya pun melongo, wow, langsung dapet kartu baru (girang banget) hahahha... Makin girang setelah lihat kartunya udah ganti model jadi seperti e-KTP dan judulnya udah jadi Kartu Indonesia Sehat (saya langsung makin cinta ama pak Jokowi dan ngerasa, yes, akhirnya punya deh kartu yang sesuai janji kampanyenya). Proses penggantian Faskes ini kira-kira hanya 10 menit. Keluar kantor BPJS dengan senyuman puas :)




FASKES Tk. 1

Suami yang lagi sibuk ngurusin syaraf kejepitnya yang udah 4 bulan ini bolak-balik RS akhirnya berhasil saya rayu untuk nyobain pake KIS alias BPJS untuk pertama kalinya sejak kami punya. Sebelum pakai, saya download dulu aplikasi JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang tersedia di playstore dan appstore. Aplikasi ini sangat membantu dalam memberikan informasi seperti info faskes, kantor cabang, riwayat kesehatan, sampai virtual card!

Sebenarnya, kami mengincar RS JIH dan dokter yang sedang menangani suami saat ini. Saya kemudian menelfon RS JIH untuk menanyakan hal-hal berikut:

1. Apakah menerima pasien BPJS? Ya, RS JIH bisa terima pasien BPJS sesuai rujukan.

2. Bagaimana prosedurnya? Karena RS JIH merupakan RS tipe B, maka pasien harus mendapat rujukan dari faskes sebelumnya (RS tipe C atau D). Jika di RS tersebut tidak tersedia dokter spesialis/sub-spesialis yang dibutuhkan maka pasien akan dirujuk ke RS JIH untuk ditangani lebih lanjut, contohnya seperti RSUD Sleman atau RS Condong Catur.


3. Apakah dokter yang kami incar menerima pasien BPJS? Alhamdulillah, dokter-dokter tersebut menerima pasien BPJS (uhuyy)


4. Bagaimana sistem pendaftaran dan antriannya? Pasien datang ke bagian pendaftaran seperti pasien umum lainnya (tempatnya tidak dibedakan) kemudian mendaftar seperti biasa dan menyerahkan berkas BPJS yang dibutuhkan, lalu, mendapat nomor antrian yang sama dengan pasien umum (bisa kita pantau secara online, lho!)



RS JIH - Source:yogyes.com


Dengan semangat 45, Senin pagi kami pergi puskesmas Depok di dekat rumah. Saya suka puskesmas ini sejak pemeriksaan wajib sebelum menikah karena tidak terlalu ramai, rapi, bersih, dan ramah petugasnya. 

Saat datang untuk mendaftar, seharusnya saya mengambil no antrian pendaftaran tapi karena rada dodol, saya langsung nanya aja gitu ke mbak petugas pendaftaran dan langsung dilayani aja gituuu... hehehe..

Petugas pendaftaran menanyakan beberapa hal basic seperti alamat, pekerjaan, dan keluhan lalu memberi kami nomer antrian untuk ke poli umum. Saat itu, kami menunggu kurang lebih 10 antrian. Biar gak bosen, saya dan mas Boy nonton film 3 Dara di Iflix yang cukup lucu dan menghibur sampai gak kerasa, nomor kami dipanggil. Setelah masuk ke ruangan, ternyata kami harus antri lagi untuk ditensi dan ditimbang, baru kemudian dokter memanggil nama pak Suami. masuk lah kita ke bilik dokter dan disambut dengan ramah.

Kami menjelaskan riwayat medis mas Boy sambil membawa rontgen awal yang pernah dilakukan di Jakarta. Dokter mengatakan kalau dari hasil rontgen tersebut kurang bisa terlihat, sebaiknya di MRI saja maka harus dirujuk ke RS yang ada di pilihan. Mempertimbangkan jarak dan saran petugas call center RS JIH sebelumnya yang menyebutkan RS Condong Catur, akhirnya kami memilih RSCC untuk faskes berikutnya (Yes, 1 step berhasil). Oh iya, dokter juga mengajarkan cara pakai korset yang benar dan mewanti-wanti untuk tidak melakukan aktifitas berat dengan raut muka yang terlihat ikut prihatin. Sepulang dari puskesmas kami juga membawa vitamin dan obat batuk yang diresepkan oleh bu Dokter. Semuanya GRATIS! 

Faskes Lanjutan - Rumah Sakit Condong Catur (Dokter Syaraf)


RSCC - Source: google


Sebelum melanjutkan petualangan, kami kembalik ke rumah untuk makan siang sambil berusaha menghubungi RSCC untuk mengetahui prosedur pendaftaran di sana. Setelah berhasil mendaftar via telfon dan kebetulan dokter yang dirujuk praktek sore itu juga, saya menyiapkan kelengkapan berkas.

Dokumen yang harus dibawa:

1. FC Surat rujukan Faskes Tk 1
2. FC KTP
3. FC KK
4. Kartu BPJS

Di sini baru berasa the real BPJS Fighter. RS terbilang cukup kecil dan old school namun ramai dengan orang-orang. Diawali ke bagian pendaftaran, saya menyampaikan berkas dan tanpa diberi pegangan apa-apa, mas Boy langsung diminta untuk ke bagian tensi. Setelah ditensi, kami menunggu di ruang tunggu kamar praktek. Kapan dipanggil masih misteri walaupun saat ditelfon diberitahu bahwa sudah dapat nomor antrian, hmm... Sekitar 30 menit kemudian kami bertemu dengan pak Dokter yang tebakannya tepat dengan apa yang dirasakan suami. Beliau mengatakan dari rontgen yang kami bawa kurang terlihat, namun sayangnya beliau tidak meminta rontgen ulang  padahal kondisi sakit mas Boy dari 4 bulan lalu sudah jauh berbeda.

Beliau memberi 2 diagnosa yang cukup melegakan karena diagnosa sebelumnya hanya 1 sedangkan yang dirasakan ada 2. Kemudian mas Boy mendapat obat-obatan dan dirujuk ke dokter rehab medik untuk melakukan fisioterapi dan kembali kontrol setelah 1 minggu. Kami juga mendapatkan surat rujuk balik yang berlaku selama 1 bulan. Yeay.. (masih happy). Tapi, kita gagal mendapatkan rujukan ke RS JIH karena dirasa masih bisa tertangani di RSCC dan kasus mas boy belum perlu MRI (yang adanya di JIH). Ok gak apa-apa, kami tetap seneng aja dan optimis bahwa we're on the right hands.

Kami tidak merasa diperlakukan berbeda. Well, kalau mau dirasa-rasa banget sih adaa sedikit bedanya sih pas di sini (mulai labil). Waktu konsultasi dokter gak terlalu lama tapi cukup efisien dan sistem antrian yang misterius, hihihi...

Faskes Lanjutan - Rumah Sakit Condong Catur (Dokter Rehab Medik)

Nah, di tahap ini saya agak keki dan kesel sih. Mas Boy udah nunggu lamaaa banget sampe akhirnya nanya ke perawatnya (mungkin gini kali ya kira-kira2):

Mas Boy (MB): "Giliran saya kapan ya sus perkiraan?"
Suster (SS): "Nama bapak siapa?"
MB: "Boy xxx"
SS: "Pasien BPJS?"
MB: "Iya"
SS: "Oh sebentar saya ambil berkasnya"

Lah... setelah sekian lama, orang-orang juga udah silih berganti, si suster baru mau ngecheck berkas..
Gak lama kemudian tiba giliran mas Boy untuk konsultasi. Kami udah menyiapkan list pertanyaan biar enggak ada yang kelewat dan berpikir bakalan fisioterapi gratis di sana.

Tapi, kadang yang kita bayangkan emang gak sesuai harapan ya. Si dokter ini dengan entengnya mematahkan diagnosa dokter syaraf dan dokter orthopedi kemudian memberi diagnosanya sendiri dengan bilang "cuma otot kaku biasa, bukan masalah". Beliau bisa banget bilang begitu karena melihat hasil rontgen 4 bulan lalu yang katanya gak kelihatan apa-apa, hanya kaku aja. Padahal, kalau mau mendengar keluhan pasien kan bisa ya? Kok sakit banget berbulan-bulan sampai sulit jalan kalau tidak kelihatan kan bisa aja beliau minta untuk cek ulang, ya? Tapi ini enggak dong...

Fisioterapi juga gagal karena si dokter bilang penuh sampai awal bulan! Mas Boy berkali-kali diceritakan kalau di RS lain bisa tapi gak pakai BPJS yang kalau saya tangkap seolah-olah mau dibilangin "udah fisio tempat lain aja gak usah pake BPJS". Selain itu bu dokter ini malah bilang ada terapis yang bisa dipanggil ke rumah tapi biayanya kurang tahu, "nanti kalau bisa, terapisnya akan hubungi ya". 

Pfftt asli deh, agak gak masuk aja di logika saya. Pasien udah kesakitan, butuh diterapi segera tapi penuh, terus gak dikasih solusi misalnya rujuk ke RS lain yang gak penuh? I feel like she did not have the urge to help and encourage us not to use this government facility. Pokoknya di tahap ini saya kecewa berat deh sama bu dokter dan kami memutuskan akan kembali menjadi pasien umum saja sementara ini.

Sayang banget mesti ketemu dokter yang seperti itu. Jadi kepikiran pasien-pasien lainnya yang mungkin keadaan ekonominya gak terlalu baik, harus gimana coba? Alhamdulillah kita masih beruntung karena cuma "nice try" aja, kalau orang yang gak mampu gimana? Mesti nahan sakit sebulan gitu untuk dapat penanganan?

Semoga orang-orang yang membutuhkan bantuan medis baik itu obat, terapi, dll dengan budget yang sangat amat terbatas bisa bertemu dokter yang kooperatif dan mau membantu pasiennya. Membantu untuk sembuh, membantu untuk meringankan rasa sakit, dan membantu untuk mencarikan solusi yang tepat.

Itu tadi pengalaman saya (dan suami) berobat menggunakan BPJS. Kami gak kapok sih, I plan to try for my regular consultation every month. Kira-kira berhasil tembus gak yaaaa ke RS inceran? We'll see...

xx
Nada Salma

2 comments:

  1. Mba nada..boleh saya minta kontak emailnya..saya ingin tanya tanya tentang autoimun nya krn ada anggota keluarga yg baru didiagnosa syndrome tsb..terima kasih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, boleh email aja ke nadda.salma@gmail.com yaa :)

      Delete