Saturday, 17 May 2014

Mengatasi sebuah rasa

Konon katanya rasa kecewa itu muncul dari pengharapan kita yang terlalu tinggi. Menurut gue, bukan pengharapan yang terlalu tinggi tetapi rasa kecewa simply ada karena adanya sebuah pengharapan, titik. Gak peduli seberapa tinggi atau rendah pengharapan tersebut, rasa kecewa pasti akan ada dengan kadarnya masing-masing.

Rasanya sih seperti satu paket yang tak terpisahkan. Pengharapan dan kecewa selalu beriringan. Jadi, kalau sudah bisa berharap ya tentu juga harus sudah bisa kecewa. Kalau belum, mungkin lebih baik untuk tidak berharap apapun karena sekecil apapun harapan itu bisa dipastikan potensi kekecewaan akan muncul.

Gue adalah tipe orang yg takut jatuh dan takut gagal. Sedikit banyak gue juga takut kecewa dan takut akan penolakan. Kadang suka berpikir bahwa mungkin ini penyebab gue stuck dan gak bisa meraih mimpi-mimpi gue. Karena gue selalu berpikir dengan merasa bahagia tanpa kecewa sedikitpun saja gue sudah amat sangat puas :)

Nah, sayangnya dalam kehidupan sehari-hari justru sebaliknya. Gue mudah terlena atau istilah sederhananya gampang keenakan. Kalau sudah keenakan, feeling dan tanda-tanda alam selalu gue abaikan. Gue sering membiarkan harapan-harapan liar muncul satu demi satu tak terkendali. Then guess what? At the end of the day, gue tak jarang harus menelan mentah-mentah rasa kecewa tersebut. Kalau sudah begitu pasti harus melampiaskan rasa yang menyebalkan itu dengan mewek selama kurang lebih 2-3 menit, membiarkan tangan dan kaki berubah menjadi dingin, lalu bersembunyi di balik selimut sembari mengatur nafas serta emosi yang tak karuan agar kembali normal.

Cara itu sampai sekarang masih tergolong ampuh mengatasi rasa kecewa yang terjadi pada diri gue. Selain itu, gue selalu berusaha berpikir positif dan membayangkan kejadian-kejadian yang membuat gue happy. I have my own happy place that no one would never understand. Contoh simpelnya: membuka gallery photo di ponsel sembari melihat-lihat foto le mister dengan berbagai pose yang lucu dan absurd! Hihihi..

Kekecewaan mendalam sering muncul terhadap diri gue sendiri. Gue kecewa dengan diri sendiri. Why? Karena gue mikir kenapa bs sampai"lolos", kenapa bisa berani berharap, dan kenapa gagal melindungi hati dari rasa yang gak enak ini. Gue enggak pernah menyalahkan orang lain atau pihak manapun saat gue kecewa karena menurut gue (lagi-lagi), orang lain enggak mungkin bisa membuat kita kecewa kalau bukan kita sendiri yang mengijinkan. Orang luar enggak mungkin bisa ngacak-ngacak rumah kita kalau bukan kita yang membuka pintunya kan?

Oleh sebab itu, cara paling ampuh mengatasi rasa kecewa adalah berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan hati sendiri. Menyalahkan orang lain atas perasaan kita sendiri itu buang-buang tenaga. Lebih baik menata hati, menata emosi, menata pikiran agar menjadi lebih baik kedepannya. Untuk siapa? Untuk diri kita tercinta.

Love,
Nada Salma

No comments:

Post a comment